Analytic Insight Net - FREE Online Tipiṭaka Law Research & Practice University
in
 112 CLASSICAL LANGUAGES
Paṭisambhidā Jāla-Abaddha Paripanti Tipiṭaka nīti Anvesanā ca Paricaya Nikhilavijjālaya ca ñātibhūta Pavatti Nissāya 
http://sarvajan.ambedkar.org anto 112 Seṭṭhaganthāyatta Bhāsā
Categories:

Archives:
Meta:
April 2019
M T W T F S S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
04/20/17
2204 Fri 21 Apr 2017 LESSONS Cakkavatti Sihanada Sutta- Buddhism and politics
Filed under: Sutta Pitaka, Abhidhamma Pitaka, Tipiṭaka, ತಿಪಿಟಕ (ಮೂಲ)
Posted by: site admin @ 10:41 pm



2204 Fri 21 Apr 2017 LESSONS


Cakkavatti Sihanada Sutta-
Buddhism and politics

Please watch:

https://www.youtube.com/watch?v=mQYjy2jfSfk


Published on Oct 27, 2014

Sariputta Sihanada Sutta - Dhamma Talk at Los Angeles Buddhist Vihara, Pasadena, California

https://www.youtube.com/watch?v=vWjDqd8ueSc



Chakravarthi SinhaNada Sutta චක්‍රවර්ති සිංහනාද සූත්‍රය +122 Ven Nauyane Ariyadhamma Thero

Published on Jun 6, 2015

Chakravarthi
SinhaNada Sutta චක්‍රවර්ති සිංහනාද සූත්‍රය +122 Most Venerable
Nauyane Ariyadhamma Maha Thero - අතීපුජනීය නා උයනේ අරියධම්ම ස්වාමීන්
වහන්සේ

පටිසෝතගාමී පටිපදා | Patisothagami Patipada
http://www.youtube.com/c/patisothagami
https://www.facebook.com/Patisothagam… or
https://www.facebook.com/Patis0thagami
http://www.twitter.com/patisothagami
http://www.plus.google.com/+patisotha…

nauyane ariyadhamma mahathera nauyane ariyadhamma thero bana nauyane ariyadhamma himi bana na uyane ariyadhamma thero
ven
na uyane ariyadhamma thero ven na uyane ariyadhamma maha thero nauyane
ariyadhamma thero dharma deshana nauyane ariyadhamma swaminwahanse
nauyane ariyadhamma maha thero 2015 නා උයනේ අරියධම්ම,පූජ්‍ය නා උයනේ
අරියධම්ම හිමි,Ven Nauyane Ariyadhamma Maha Thero, අතීපුජනීය නා උයනේ
අරියධම්ම ස්වාමීන් වහන්සේගේ, ධර්ම දේශනා,නා උයනේ අරියධම්ම නාහිමි අති
පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම නාහිමි,නා උයනේ අරියධම්ම මහා නා හිමි,නා උයනේ
අරියධම් නා උයනේ අරියධම්ම මහා නා හිමි nauyane ariyadhamma maha thero
2015 nauyane ariyadhamma thero books පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම හිමි ( Ven
Nauyane Ariyadhamma Maha Thero අති පූජනීය නා උයනේ අරියධම්ම මහිමිපානන්
අතීපුජනීය නා උයනේ අරියධම්ම ස්වාමීන් වහන්සේගේ ධර්ම දේශනා . නා උයනේ
අරියධම්ම නාහිමි අති පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම නාහිමි නා උයනේ අරියධම්ම මහා
නා හිමි නා උයනේ අරියධම්
Nauyane Ariyadhamma,Nauyane Ariyadhamma Maha
Thero 2015,ven nauyane ariyadhamma thero,most ven nauyane ariyadhamma
theronauyane ariyadhamma himi,na uyane ariyadhamma maha thero,nauyane
ariyadhamma thero pirith,අති,පූජ්‍ය,නා උයනේ,අරියධම්ම,නාහිමි,නා උයනේ
අරියධම්ම Nauyane Ariyadhamma Maha Thero 2015 Niwanata Maga නිවනට මඟ -
අති පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම නාහිමි
ven nauyane ariyadhamma thero most
ven nauyane ariyadhamma thero nauyane ariyadhamma himi na uyane
ariyadhamma maha thero nauyane ariyadhamma thero pirith Niwanata Maga -
නිවනට මඟ - Most Ven Nauyane Ariyadhamma Maha Thero - අති පූජ්‍ය නා උයනේ
අරියධම්ම මහා හිමිපාණන් වහන්සේ මහා කම්මට්ඨානාචාර්ය, ත්‍රිපිඨකාචාර්ය අති
පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම මහා නහිමිපාණන් වහන්සේ විසින් මෙහෙයවන ලද ධර්ම
දේශනා Maha Kammattanacharya,Tripitakacharya Most Venerable Nauyane
Ariyadhamma Maha Thero
nauyane ariyadhamma thero dharma deshana Ven
Nauyane ariyadhamma thero,nauyane ariyadhamma mahathera,nauyane
ariyadhamma thero bana,nauyane ariyadhamma himi | Niwan Magata - නිවනට
මඟට - Most Ven Nauyane Ariyadhamma Maha Thero - අති පූජ්‍ය නා උයනේ
අරියධම්ම මහා හිමිපාණන් වහන්සේ
nauyane ariyadhamma thero dharma deshana

මහා කම්මට්ඨානාචාර්ය, ත්‍රිපිඨකාචාර්ය අති පූජ්‍ය නා උයනේ අරියධම්ම මහා නහිමිපාණන් වහන්සේ විසින් මෙහෙයවන ලද ධර්ම දේශනා
Maha Kammattanacharya,Tripitakacharya Most Venerable Nauyane Ariyadhamma Maha Thero

›› Patisothagami Patipada පටිසෝතගාමී පටිපදා
http://www.youtube.com/patisothagami
https://www.facebook.com/Patisothagam…
http://www.twitter.com/patisothagami
http://www.plus.google.com/+patisotha… #sinhala #Patisothagami #Patipada #පටිසෝතගාමී #පටිපදා
#sinhala #darma desana #dharma deshana #nivan
magata # ariya gnana himi gihigeyin nivan magata # gihigeyin niwan
magata # Maha Rahathun Wadimaga Osse Darma Discussion Maha Rahathun
Wedimaga Osse ධර්මසාකච්චා Buddhaghosha,sadaham arana,Siri Sadaham
Ashramaya,the buddhist tv,shraddha tv

https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/cakkavatti-sihanada-sutta/





CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA



Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya V
Oleh : Lembaga Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : CV. Danau Batur – Jakarta, 1992


Demikian yang telah kami dengar:


  1. Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Matula dalam kerajaan
    Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para
    bhikkhu: “Para bhikkhu.” Para bhikkhu menjawab: “Ya,
    bhante.” Kemudian Sang Bhagava berkata:”Para bhikkhu,
    jadikanlah dirimu sebagai pelita, berlindunglah pada
    dirimu sendiri dan jangan berlindung pada yang lain; hiduplah
    dalam dhamma sebagai pelitamu, dhamma sebagai pelindungmu dan
    jangan berlindung pada yang lain.

    Para bhikkhu, tetapi bagaimanakah seorang bhikkhu menjadi pelita
    bagi dirinya sendiri, sebagai pelindung bagi dirinya
    sendiri dan tidak berlindung pada yang lain?
    Bagaimana ia hidup dalam dhamma yang sebagai pelita
    bagi dirinya dan tidak berlindung pada yang lain?

    Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu mengamati tubuh
    (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
    perhatian, melenyapkan keserakahan dan
    ketidaksenangan dalam dunia. Seorang bhikkhu
    mengamati perasaan (vedana)… mengamati kesadaran (citta)…
    dan mengamati ide-ide (dhamma) sebagai dhamma dengan rajin,
    penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan
    ketidaksenangan dalam dunia.

    Para bhikkhu, beginilah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai
    pelita bagi dirinya sendiri, menjadikan dirinya sebagai
    pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung
    pada hal yang lain. Ia menjadikan dhamma sebagai
    pelita bagi dirinya sendiri, ia menjadikan dhamma
    sebagai pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak
    berlindung pada yang lain.

    Para bhikkhu, jalanlah di lingkunganmu (gocara) sendiri, yang
    pernah dijalani oleh para pendahulumu. Jikalau kamu sekalian
    berjalan di tempat itu maka Mara tidak akan mendapat
    tempat untuk ditempati dan tidak ada tempat untuk
    dihancurkan. Sesungguhnya dengan mengembangkan
    kebaikan maka jasa-jasa bertambah-tambah.

  2. Para bhikkhu, pada zaman dahulu ada
    seorang maharaja dunia (cakkavatti) yang bernama
    Dalhanemi yang jujur, memerintah berdasarkan
    kebenaran, raja dari empat penjuru dunia, penakluk, pelindung
    rakyatnya, pemilik tujuh macam permata. Ketujuh macam permata
    itu adalah cakka (cakra), gajah, kuda, permata,
    wanita, kepala rumah tangga dan penasehat. Ia
    memiliki keturunan lebih dari seribu orang yang
    merupakan ksatriya-ksatriya perkasa penakluk musuh.
    Ia menguasai seluruh dunia sampai ke batas lautan, yang
    ditaklukkannya bukan dengan kekerasan atau dengan pedang tetapi
    dengan kebenaran (dhamma).
  3. Para bhikkhu, setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan
    tahun, Raja Dalhanemi memerintah seseorang dengan berkata:
    ‘Bilamana kau melihat Cakka permata surgawi (dibba
    cakka ratana) telah terbenam sedikit dan telah
    bergeser dari tempatnya, maka beritahukan hal itu
    kepadaku.”Baiklah, raja,’ jawab orang itu.

    Setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, orang
    itu melihat bahwa Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit
    dan telah bergeser sedikit dari tempatnya. Setelah ia
    melihat kejadian ini, ia pergi menghadap Raja
    Dalhanemi dan melapor: ‘Maharaja, ketahuilah bahwa
    Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit dan telah
    bergeser sedikit dari tempatnya.’

    Para bhikkhu, Raja Dalhanemi memanggil putra yang tertua dan berkata:
    ‘Anakku, dengarkanlah, Cakka ratana surgawi telah terbenam sedikit
    dan telah bergeser sedikit dari tempatnya. Juga telah
    diberitahukan kepadaku: ‘Bilamana Cakka ratana
    surgawi dari maharaja dunia (cakkavatti) terbenam dan
    bergeser dari tempatnya, maka raja itu tidak akan
    hidup lama lagi’. Saya telah menikmati kenikmatan
    duniawi. Anakku, pimpinlah dunia ini sampai di batas lautan.
    Karena saya akan mencukur rambut serta janggutku, mengenakan
    jubah kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk
    menjadi pertapa.’

    Para bhikkhu, demikianlah setelah Raja Dalhanemi menyerahkan
    tahta kerajaan kepada putranya, ia mencukur rambut serta
    janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan
    kehidupan duniawi dan menjadi pertapa. Para hari
    ketujuh Cakka ratana surgawi lenyap.

  4. Kemudian seseorang menghadap raja dan melapor kepada beliau dengan berkata:
    ‘Raja, demi kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka ratana surgawi telah lenyap!’

    Para bhikkhu, ketika raja mendengar kabar itu, ia menjadi sedih
    dan berduka cita. Lalu ia pergi menemui pertapa raja dan
    berkata: ‘Tuanku, demi kebenaran, ketahuilah bahwa
    Cakka ratana surgawi telah lenyap.’

    Setelah raja berkata demikian, pertapa raja menjawab: ‘Anakku,
    janganlah bersedih dan berduka cita karena tidak ada
    hubungan keluarga antara kau dan Cakka ratana
    surgawi. Tetapi anakku, putarlah roda kewajiban
    maharaja yang suci. Karena bila kau memutarkan roda
    kewajiban maharaja yang suci dan pada hari uposatha
    di bulan purnama kau membasuh kepalamu serta melaksanakan uposatha
    di teras utama pada tingkat atas istana, maka Cakka ratana
    surgawi akan muncul lengkap dengan seribu ruji, roda
    dan as serta bagian-bagian lain.’

  5. ‘Tetapi, Tuanku, apakah yang dimaksud dengan roda kewajiban
    maharaja yang suci itu?”Anakku, hiduplah dalam kebenaran;
    berbakti, hormati dan bersujudlah pada kebenaran,
    pujalah kebenaran, sucikanlah dirimu dengan
    kebenaran, jadikanlah dirimu panji kebenaran dan tanda kebenaran,
    jadikanlah kebenaran sebagai tuanmu. Perhatikan, jaga dan
    lindungilah dengan baik keluargamu, tentara, para
    bangsawan, para menteri, para rohaniawan, perumah
    tangga, para penduduk kota dan desa, para samana dan
    pertapa, serta binatang-binatang. Jangan biarkan
    kejahatan terjadi dalam kerajaanmu. Bila dalam kerajaanmu ada
    orang yang miskin, berilah dia dana. Anakku apabila para samana
    dan pertapa dalam kerajaanmu meninggalkan minuman
    keras yang menyebabkan kekurangwaspadaan dan mereka
    sabar serta lemah lembut, menguasai diri, menenangkan
    diri serta menyempurnakan diri mereka masing-masing,
    lalu selalu datang menemuimu untuk menanyakan
    kepadamu apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan baik dan
    perbuatan buruk, perbuatan yang pantas dilakukan dan yang tak
    pantas dilakukan, perbuatan yang bermanfaat dan yang
    tidak bermanfaat di masa yang akan datang; kau harus
    mendengar apa yang akan mereka katakan dan kau harus
    menghalangi mereka berbuat jahat serta anjurkanlah
    mereka untuk berbuat baik. Anakku inilah roda
    kewajiban maha raja yang suci.’

    ‘Baiklah, tuanku,’ jawab raja. Ia patuh melaksanakan roda kewajiban
    maharaja yang suci. Pada hari uposatha raja membasuh
    kepalanya dan melaksanakan uposatha di teras utama
    pada tingkat atas istana. Kemudian Cakka ratana
    surgawi muncul lengkap dengan seribu ruji, roda, as
    serta bagian-bagian yang lain. Ketika raja melihat
    kejadian ini ia berpikir: ‘Telah diberitahukan kepadaku bahwa
    raja yang melihat Cakka ratana surgawi yang muncul, maka ia
    menjadi Cakkavatti (maharaja dunia). Semoga saya menjadi
    penguasa dunia!’

  6. Para bhikkhu, kemudian raja bangkit dari tempat duduknya,
    membuka jubah dari bagian salah satu bahunya, dengan tangan
    kiri ia mengambil sebuah kendi dan dengan tangan
    kanannya ia memercikkan air pada Cakka ratana surgawi
    dengan berkata: ‘Berputarlah Cakka ratana. Maju dan
    taklukkanlah, Cakka ratana.’Para bhikkhu, kemudian Cakka ratana berputar
    maju ke arah daerah bagian Timur dan raja cakkavatti
    mengikuti Cakka ratana itu. Raja pergi bersama
    tentaranya, kuda-kuda, kereta-kereta, gajah-gajah dan
    pasukan. Di tempat mana pun Cakka ratana itu berhenti, di
    tempat itu pula raja penakluk bersama empat kelompok pasukannya
    tinggal. Kemudian semua raja yang merupakan musuh di
    daerah bagian Timur datang menemui cakkavatti dengan
    berkata: ‘Datanglah, Maharaja! Selamat datang,
    Maharaja! Semua ini milikmu, Maharaja! Pimpinlah
    kami, Maharaja!’ Raja Cakkavatti menjawab: ‘Kamu sekalian
    janganlah membunuh mahluk, jangan mengambil barang yang tidak
    diberikan, jangan berzinah, jangan berdusta dan jangan
    minum-minuman keras. Nikmatilah apa yang menjadi hak
    kamu sekalian.’ Semua raja-raja yang merupakan musuh
    di daerah bagian Timur menjadi taklukkan Cakkavatti.
  7. Para bhikkhu, kemudian Cakka ratana terjun ke dalam lautan
    timur dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah
    bagian selatan… (di sana terjadi seperti yang terjadi
    di daerah bagian timur. Demikian pula Cakka ratana
    terjun ke dalam lautan selatan dan muncul kembali
    serta berputar maju ke arah daerah bagian barat… ke
    arah daerah bagian utara… semua terjadi seperti yang
    terjadi di daerah bagian timur).Setelah Cakkaratana menaklukkan seluruh
    dunia hingga ke batas lautan, Cakka ratana kembali ke
    kota kerajaan dan diam, sehingga orang-orang
    berpikir bahwa Cakka ratana telah tetap tidak akan
    bergerak di depan gedung pengadilan di gerbang istana raja Cakkavatti.
    Cakka ratana menambah keagungan istana dengan berada
    di depan gerbang istana raja Cakkavatti.
  8. Para bhikkhu, demikian pula raja Cakkavatti kedua… raja
    Cakkavatti ketiga … raja Cakkavatti keempat … raja Cakkavati
    kelima … raja Cakkavatti keenam… dan raja Cakkavatti
    ketujuh setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun
    dan setelah ribuan tahun, beliau memerintah seseorang
    dengan berkata: ‘Bilamana kau melihat Cakka ratana
    surgawi telah terbenam sedikit dan telah bergeser
    sedikit dari tempatnya, maka beritahukan hal itu
    kepadaku.”Baiklah, raja,’ jawab orang itu.

    Setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun, dan setelah ribuan
    tahun, orang itu melihat bahwa Cakka ratana telah terbenam
    sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempatnya.
    Ketika melihat kejadian ini, ia pergi menghadap raja
    Cakkavatti dan melaporkan apa yang telah dilihatnya.

    Para bhikkhu, raja cakkavatti memanggil putranya yang tertua
    dan berkata: ‘Anakku, dengarkanlah, Cakka ratana surgawi
    telah terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit
    dari tempatnya. Juga telah diberitahukan kepadaku:
    ‘Bilamana Cakka ratana surgawi telah terbenam dan
    bergeser dari tempatnya maka raja Cakkavatti tidak
    akan hidup lama lagi’. Saya telah menikmati kenikmatan
    duniawi, tibalah saatnya bagiku untuk mencari kebahagiaan surgawi.
    Anakku, pimpinlah dunia ini yang sampai di batas lautan.
    Karena saya akan mencukur rambut serta janggutku,
    mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan
    duniawi untuk menjadi pertapa.’

    Demikianlah setelah raja Cakkavatti menyerahkan tahta kerajaan
    kepada putranya, ia mencukur rambut dan janggutnya,
    mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan
    duniawi dan menjadi pertapa. Pada hari ketujuh
    setelah raja menjadi pertapa, Cakka ratana surgawi
    lenyap.

  9. Kemudian seseorang menghadap raja dan melapor kepada beliau
    dengan berkata: ‘Raja, demi kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
    ratana surgawi telah lenyap!’ Ketika raja mendengar
    berita ini ia menjadi sedih dan berduka cita, tetapi
    ia tidak pergi menemui pertapa raja untuk menanyakan
    roda kewajiban maharaja yang suci. Dengan idenya dan
    caranya sendiri ia memerintah rakyatnya dan rakyat
    yang diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda
    dengan apa yang mereka ikuti dahulu, menjadi tidak sukses seperti
    apa yang mereka biasa capai di masa raja-raja terdahulu
    yang melaksanakan kewajiban maharaja yang suci dari
    seorang raja Cakkavatti.Para bhikkhu, kemudian para
    menteri, para pegawai istana, para pejabat keuangan,
    para pengawal dan penjaga serta orang-orang yang
    hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra pergi menemui
    raja dan berkata: ‘Wahai raja, rakyatmu yang raja perintah
    berdasarkan idemu dan caramu sendiri, yang berbeda
    dengan cara-cara yang mereka ikuti dahulu tidak
    sukses seperti apa yang mereka biasa capai di masa
    raja-raja terdahulu yang melaksanakan kewajiban
    maharaja yang suci. Dalam kerajaan ini ada para menteri, para
    pegawai istana, para pejabat keuangan, para pengawal dan
    penjaga serta orang-orang yang hidup dengan
    melaksanakan pembacaan mantra — semua kami ini dan
    yang lain-lain — memiliki pengetahuan tentang
    kewajiban maharaja yang suci dari raja Cakkavatti. Apabila
    raja menanyakan hal itu kepada kami, maka kami akan
    menerangkannya.’
  10. Para bhikkhu, kemudian raja mempersilahkan para menteri dan
    orang-orang lainnya duduk, setelah itu raja bertanya kepada
    mereka tentang kewajiban maharaja yang suci dari raja
    cakkavatti. Mereka menerangkan hal itu kepada beliau.
    Ketika raja telah mendengar hal itu, beliau
    memperhatikan, menjaga dan melindungi rakyatnya
    dengan baik, tetapi ia tidak memberikan dana kepada
    orang-orang miskin. Karena ia tidak berdana kepada orang-orang
    miskin maka kemelaratan bertambah.Ketika kemiskinan telah
    meluas, seorang tertentu mengambil barang yang tidak
    diberikan kepadanya, perbuatan ini disebut mencuri.
    Ia ditangkap orang-orang dan ia dihadapkan kepada raja dan mereka
    berkata: ‘Raja, orang ini telah mengambil barang yang tidak
    diberikan kepadanya, perbuatan itu adalah mencuri.’

    Lalu raja bertanya sebagai berikut kepada orang itu: ‘Apakah
    benar bahwa kau telah mengambil barang yang tak diberikan
    kepadamu, dan dengan demikian kamu telah melakukan
    perbuatan yang disebut mencuri?’

    ‘Benar, raja.’

    ‘Mengapa kau melakukannya?’

    ‘Raja, saya tak memiliki sesuatu untuk mempertahankan hidupku.’

    Kemudian raja memberikan dana kepada orang itu dengan berkata:
    ‘Dengan dana ini kau dapat menyambung hidupmu,
    peliharalah orang tuamu, anak-anakmu dan istrimu.
    Kerjakanlah pekerjaanmu dan berdanalah selalu kepada para
    samana dan pertapa, karena perbuatan ini berpahala untuk
    terlahir kembali di alam surga.’

    ‘Baiklah, raja,’ jawab orang itu.

  11. Para bhikkhu, kemudian ada orang lain mencuri. Ia ditangkap
    orang-orang dan mereka membawanya menghadap kepada raja,
    mereka berkata: ‘Raja, orang ini telah mencuri.’ Raja
    bertanya kepada orang itu dan beliau melakukan
    perbuatan yang sama seperti yang beliau lakukan
    kepada pencuri yang lalu, dengan memberikan dana
    kepada orang itu.
  12. Para bhikkhu, orang-orang mendengar bahwa bagi mereka yang
    mencuri mendapat dana dari raja. Karena mendengar hal ini
    mereka berpikir: ‘Marilah kita mencuri.’ Di antara
    mereka itu ada orang tertentu yang melakukannya.
    Orang ini ditangkap dan dibawa kehadapan raja. Raja
    bertanya kepada orang tersebut:
    ‘Apa sebab kau mencuri?’

    ‘Saya mencuri sebab tak dapat mempertahankan hidupku.’

    Namun raja berpikir: ‘Jika saya memberikan dana kepada siapa
    setiap orang yang mencuri maka pencuri akan bertambah banyak.
    Saya harus menghentikan perbuatan ini, ia harus
    diganjar dengan hukuman berat, yaitu kepalanya
    dipancung.’ Selanjutnya raja memerintah bawahannya
    dengan berkata:
    ‘Perhatikanlah, ikatlah tangan orang ini ke belakang tubuhnya
    dan ikatlah dengan kencang. Gunduli kepalanya dan bawalah dia
    berkeliling disertai genderang yang nyaring ke
    jalan-jalan, ke persimpangan-persimpangan jalan.
    Bawalah dia keluar melalui gerbang selatan dan
    berhentilah di selatan kota. Ganjarlah dia dengan
    hukuman terberat berat, yaitu kepalanya dipancung.’

    ‘Baiklah, raja,’ jawab orang-orang itu dan mereka melaksanakan perintah itu.

  13. Para bhikkhu, pada waktu itu telah banyak orang yang mendengar
    bahwa orang yang mencuri dihukum mati. Karena telah
    mendengar hal ini maka beberapa orang tertentu
    berpikir: ‘Sekarang kitapun harus menyediakan pedang
    tajam dan orang-orang yang barangnya kita ambil
    dengan tanpa mereka berikan — perbuatan yang disebut
    mencuri — kita hentikan mereka dengan kepala mereka kita
    pancung.’Selanjutnya, mereka mempersenjatai diri mereka dengan
    pedang-pedang tajam, lalu mereka, pergi merampok di
    desa-desa, di kampung-kampung dan di kota-kota serta
    di jalan-jalan. Orang-orang yang mereka rampoki
    mereka bunuh dengan kepala dipancung.
  14. Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
    kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena
    kemelaratan bertambah maka pencuri bertambah. Karena
    pencuri bertambah maka kekerasan berkembang dengan
    cepat. Disebabkan adanya kekerasan yang meluas maka
    pembunuhan menjadi biasa. Karena pembunuhan terjadi
    maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang,
    sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah 80.000 tahun,
    akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
    hanya 40.000 tahun.Selanjutnya, di antara orang-orang
    yang batas usia kehidupan 40.000 tahun ada yang mencuri.
    Pencuri ditangkap oleh orang-orang dan dia dihadapkan
    kepada raja. Orang-orang itu memberitahukan kepada raja
    dengan berkata: ‘Raja, orang telah mencuri.’

    Raja bertanya kepada orang itu: ‘Apakah benar bahwa kau telah mencuri?’

    ‘Tidak, raja,’ jawabnya. Dengan jawaban ini orang itu telah berdusta dengan sengaja.

  15. Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang
    yang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri … kekerasan
    … pembunuhan… hingga berdusta menjadi biasa. Karena
    berdusta telah menjadi biasa maka batas usia
    kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga
    batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah
    40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
    anak-anak mereka hanya 20.000 tahun.Di antara orang-orang yang batas
    usia kehidupan 20.000 tahun ada orang yang mencuri.
    Ada orang tertentu yang melaporkan hal ini kepada
    raja: ‘Raja, ada orang yang mencuri’, demikianlah ia
    mengatakan kata-kata jahat tentang orang itu.
  16. Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan kepada
    orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas… mencuri…
    kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah berkembang.
    Karena memfitnah berkembang maka batas usia kehidupan dan
    kecantikan manusia berkurang. Sehingga batas usia
    kehidupan manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan
    tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000
    tahun.Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan 10.000 tahun ada
    yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang
    berparas buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik.
    Akibatnya orang-orang yang berparas buruk ini berzinah
    dengan istri-istri tetangga mereka.
  17. Para bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
    kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri…
    kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah… berzinah
    berkembang. Karena perzinahan berkembang maka batas
    usia kehidupan dan kecantikan manusia berkurang,
    sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
    adalah 10.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
    anak-anak mereka hanya 5.000 tahun.Pada masa kehidupan dari orang-orang
    yang batas usia kehidupan mereka hanya 5.000 tahun
    berkembang dua hal yaitu kata-kata kasar dan membual.
    Karena ke dua hal ini berkembang maka batas usia
    kehidupan manusia pada masa itu adalah 5.000 tahun, akan
    tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya
    2.500 tahun ada yang hanya 2.000 tahun.

    Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500
    tahun, iri hati dan dendam berkembang. Karena ke dua hal ini
    berkembang maka batas usia kehidupan dan kecantikan
    manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
    manusia pada masa itu adalah 2.500 tahun 2.000 tahun,
    akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
    hanya 1.000 tahun.

    Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000 tahun,
    pandangan sesat (miccha ditthi) muncul dan berkembang.
    Karena pandangan sesat ini berkembang maka batas usia
    kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga
    batas usia kehidupan dan kecantikan pada masa itu adalah
    1.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka hanya 500 tahun.

    Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun,
    ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan
    saudara sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu.
    Karena tiga hal ini berkembang maka batas usia
    kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga
    batas usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 500
    tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
    mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.

    Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun,
    hal sebagai berikut ini berkembang — kurang berbakti
    kepada orang tua, kurang hormat kepada para samana
    dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin
    masyarakat.

  18. Para bhikkhu, demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan
    kepada orang-orang miskin maka kemelaratan meluas… mencuri…
    kekerasan… pembunuhan… berdusta… memfitnah…
    perzinahan… kata-kata kasar dan membual… iri hati dan
    dendam … pandangan sesat… berzinah dengan saudara
    sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu… hingga
    kurang berbakti kepada orang tua, kurang hormat
    kepada para samana dan pertapa dan kurang patuh kepada pemimpin
    masyarakat berkembang dan meluas. Karena hal-hal ini
    berkembang dan meluas maka batas usia kehidupan dan
    kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia
    kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun,
    akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
    hanya 100 tahun.
  19. Para bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia
    itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun.
    Di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
    mereka 10 tahun, umur lima tahun bagi wanita
    merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan
    orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee),
    mentega, minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka
    ini, biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik.
    Seperti pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan
    makanan yang terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa
    bagi mereka. Pada masa orang-orang itu, sepuluh
    macam cara melakukan perbuatan baik akan hilang,
    sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan
    jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada
    lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik — Siapa
    yang akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka
    tidak ada lagi rasa berbakti kepada orang tua, tidak
    ada lagi rasa menghormat kepada para samana dan
    pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan kepada para
    pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang orang-orang
    masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada para samana
    dan pertapa serta patuh kepada para pemimpin, namun pada
    masa orang-orang… yang batas usia kehidupan mereka
    hanya 10 tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak
    ada lagi.
  20. Para bhikku, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
    mereka 10 tahun tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi
    untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi
    dari pihak ayah, bibi dari pihak ayah yang merupakan
    istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia akan
    diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja,
    bagaikan kambing, domba, burung, babi, anjing dan
    srigala.Di antara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan
    menjadi hukum, perasaaan yang benci yang hebat,
    dendam yang kuat serta keinginan membunuh dari ibu
    terhadap anaknya, anak terhadap ibunya, ayah terhadap
    anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak terhadap
    adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya… Hal
    ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang menghadiri
    pertandingan, begitulah pikiran mereka.
  21. Para bhikku, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka
    10 tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang
    selama seminggu. Selama masa ini mereka akan melihat
    individu lain sebagai binatang liar: pedang tajam
    akan nampak selalu tersedia di tangan mereka dan
    mereka berpikir: ‘Individu ini adalah binatang liar.’
    Dengan pedang mereka saling membunuh.Sementara itu ada orang-orang
    tertentu yang berpikir: ‘Sebaiknya kita jangan
    membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain membunuh
    kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam belukar, ke
    dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam gua gunung
    dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di
    hutan.’ Mereka akan melaksanakan hal ini selama
    seminggu. Pada hari ke tujuh mereka keluar dari
    belukar, hutan, cekungan dan gua, mereka akan saling
    berangkulan dan akan saling membantu, dengan berkata:
    ‘O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih
    hidup!’

    Para bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul keinginan-keinginan
    sebagai berikut : ‘Karena kita melakukan cara-cara yang
    jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara.
    Marilah kita berbuat kebajikan-kebajikan. Sekarang,
    kebajikan apakah yang dapat kita lakukan? Marilah
    kita berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Itu
    merupakan perbuatan baik yang dapat kita lakukan.’ Mereka
    akan berusaha untuk tidak membunuh, hal yang baik ini mereka
    laksanakan terus. Karena melaksanakan kebajikan ini maka
    akibatnya batas usia kehidupan dan kecantikan mereka
    bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya 10
    tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
    mereka mencapai 20 tahun.

  22. Para bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang
    yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun: ‘Sekarang,
    karena kita mengikuti dan melaksanakan kebajikan maka
    batas usia kehidupan dan kecantikan kita bertambah.
    Marilah kita meningkatkan kebajikan kita. Marilah
    kita berusaha untuk tidak mengambil apa yang tidak
    diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita berusaha
    untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak memfitnah, kita
    berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar,
    kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha
    untuk tidak serakah, kita berusaha untuk tidak
    membenci, kita berusaha untuk tidak berpandangan
    sesat, kita berusaha untuk tidak melakukan tiga hal berikut,
    yaitu: tidak bersetubuh dengan keluarga sendiri, tidak tamak
    dan tidak memuaskan nafsu. Marilah kita berbakti kepada
    orang tua kita, kita menghormati para samana dan
    pertapa serta kita patuh kepada pemimpin masyarakat.
    Marilah kita selalu melaksanakan kebajikan-kebajikan
    ini.’Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan kebajikan: tidak
    mengambil apa yang tidak diberikan… berbakti kepada ke
    dua orang tua, menghormat para samana dan pertapa serta
    patuh kepada pemimpin masyarakat. Karena mereka
    melaksanakan kebajikan-kebajikan itu, maka batas usia
    kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga mereka
    yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi batas
    usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun.
    Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya
    40 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
    mereka mencapai 80 tahun; …. anak-anak mereka mencapai
    160 tahun;… anak-anak mereka mencapai 320 tahun;…
    anak-anak mereka mencapai 640 tahun;… anak-anak mereka mencapai
    2.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun;… anak-anak
    mereka mencapai 8.000 tahun;… anak-anak mereka mencapai
    20.000 tahun; anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun; dan
    mereka yang pada masa itu hanya berbatas usia kehidupan
    40.000 tahun, akan tetapi anak-anak mereka akan mencapai
    batas usia kehidupan 80.000 tahun.
  23. Para bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
    mereka 80.000, maka usia perkawinan bagi wanita adalah
    pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini hanya
    akan ada tiga macam penyakit — keinginan, lupa makan
    dan ketuaan. Pada masa kehidupan orang-orang ini
    Jambudipa akan makmur dan jaya, desa-desa,
    kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan akan berdekatan
    satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat terbang
    dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan
    orang-orang ini, Jambudipa — bagaikan avici — akan
    penuh dengan penduduk bagaikan hutan yang dipenuhi
    semak belukar. Pada masa kehidupan orang-orang ini,
    kota Baranasi yang kita kenal sekarang akan bernama
    Ketumati yang merupakan kota kerajaan yang besar dan
    makmur, berpenduduk banyak dan padat serta berpangan cukup.
    Pada masa kehidupan orang-orang ini, di Jambudipa akan terdapat
    84.000 kota dengan Ketumati sebagai ibu kota.
  24. Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati,
    ibu kota kerajaan, akan muncul seorang raja Cakkavatti
    bernama Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan
    kebenaran, penguasa empat penjuru dunia, penakluk,
    pelindung rakyatnya dan pemilik tujuh macam permata,
    yaitu: cakka, gajah, kuda, permata, wanita (istri),
    kepala rumah tangga dan panglima perang. Ia akan memiliki
    keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan ksatriya-ksatriya
    digjaya, penakluk musuh-musuh. Ia akan menguasai dunia
    sampai ke batas lautan, tetapi ia menguasai dunia ini
    bukan dengan kekerasan atau dengan pedang melainkan
    dengan kebenaran.
  25. Para bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam
    dunia akan muncul seorang Bhagava Arahat Sammasambuddha
    bernama Metteyya, yang sempurna dalam pengetahuan dan
    pelaksanaannya, sempurna menempuh jalan, pengenal
    segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya,
    yang sadar serta yang patut dimuliakan, yang sama
    seperti saya sekarang. Ia, dengan dirinya sendiri
    akan mengetahui dengan sempurna dan melihat dengan jelas alam
    semesta bersama alam-alam kehidupan para dewa, brahma, mara,
    serta para samana, para pertapa, para pangeran dan
    orang-orang lainnya, seperti apa yang saya tahu
    dengan sempurna dan lihat dengan jelas sekarang.
    Dhamma kebenaran yang indah pada permulaan, indah
    pada pertengahan dan indah pada akhir akan dibabarkan
    dalam kata-kata dan semangat, kehidupan suci akan dibina dan
    dipaparkan dengan sempurna dengan penuh kesucian, seperti yang
    saya lakukan sekarang. Ia akan diikuti oleh beberapa
    ribu bhikkhu sangha, seperti saya sekarang ini yang
    diikuti oleh beberapa ratus bhikkhu sangha.
  26. Para bhikkhu, Raja Sankha akan membangun kembali tempat suci
    yang pernah dibangun oleh Raja Maha Panada. Raja Sankha
    akan tinggal di tempat suci itu, tetapi tempat itu
    akan diberikannya sebagai dana kepada para samana,
    para pertapa, para pengembara, para pengemis dan
    mereka yang membutuhkan. Ia sendiri akan mencukur
    rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan
    berumah tangga dan menjadi siswa dari Bhagava Arahat
    Sammasambuddha Metteyya. Setelah Raja Sankha
    meninggalkan kehidupan duniawi, ia akan hidup
    menyendiri dan dengan usaha sungguh-sungguh, tekad,
    penuh kewaspadaan berusaha mengusahai dirinya. Tidak lama kemudian
    ia akan mencapai tujuan yang merupakan cita-cita dari
    mereka yang meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup
    sebagai pertapa. Masih dalam kehidupan dalam dunia
    ini, ia akan mencapai, mengetahui dan merealisasi
    tujuan akhir dari penghidupan suci.
  27. Para bhikkhu, jadikanlah dirimu sebagai pelita; berlindunglah
    pada dirimu sendiri dan jangan berlindung pada orang lain.
    Hiduplah dalam dhamma kebenaran yang sebagai
    pelitamu, dengan dhamma sebagai pelindungmu dan
    jangan berlindung pada yang lain.Para bhikkhu, tetapi bagaimana seorang
    bhikkhu menjadi pelita bagi dirinya sendiri, sebagai
    pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung
    pada yang lain?

    Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu mengamati tubuh
    (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
    perhatian, melenyapkan keserakahan dan
    ketidaksenangan dalam dunia. Seorang bhikkhu
    mengamati perasaan (vedana)… mengamati kesadaran (citta)…
    dan mengamati ide-ide (dhamma) sebagai dhamma dengan rajin penuh
    pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan dan
    ketidaksenangan dalam dunia.

    Para bhikkhu, beginilah seorang bhikkhu menjadikan dirinya sebagai
    pelita bagi dirinya sendiri, menjadikan dirinya sebagai
    pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung
    pada yang lain. Ia menjadikan dhamma sebagai pelita
    bagi dirinya sendiri, ia menjadikan dhamma sebagai
    pelindung bagi dirinya sendiri dan tidak berlindung
    pada hal yang lain.

  28. Para bhikkhu, jalanlah di lingkunganmu sendiri, di mana para
    pendahulumu berjalan. Jikalau kamu sekalian berjalan di
    tempat itu maka usia akan bertambah, kecantikan akan
    bertambah, kebahagiaan akan bertambah, kekayaan akan
    bertambah dan kekuatan akan bertambah.Para bhikkhu, apakah yang dimaksud
    dengan usia? Dalam hal ini seorang bhikkhu
    mengembangkan Empat dasar kemampuan batin (iddhipada)
    dengan membangkitkan (chanda), semangat (viriya), kesadaran
    (citta), dan penyelidikan (vimamsa) tentang pelaksanaan, usaha
    dan meditasi. Dengan dikembangkannya Empat Iddhipada
    ini, maka bila ia menginginkan, ia dapat hidup selama
    satu kalpa (kappa) atau selama masa kappa di mana ia
    hidup. Inilah yang dimaksud dengan usia.

    Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kecantikan? Dalam
    hal ini, seorang bhikkhu melaksanakan peraturan-peraturan
    moral (sila), mengendalikan dirinya sesuai dengan
    Patimokkha, sempurna dalam sikap dan tingkah laku; ia
    melihat bahaya sekalipun itu hanya merupakan
    kesalahan kecil dan ia menghindarkan diri dari
    kesalahan itu. Ia melatih diri dengan melaksanakan sila. Inilah
    yang dimaksudkan dengan kecantikan.

    Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan? Dalam
    hal ini, seorang bhikkhu menjauhkan diri dari pemuasan nafsu,
    bebas dari pikiran-pikiran jahat, mencapai dan tetap
    berada dalam Jhana I dengan memiliki usaha untuk
    menangkap obyek (vitakka), obyek dikuasai (vicara),
    kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan
    (viveka) batin. Dengan melenyapkan vitakka dan vicara
    ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana II dengan diliputi
    kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan (viveka)
    batin. Dengan melenyapkan piti ia mencapai dan tetap
    berada dalam Jhana III dengan diliputi kebahagiaan
    (sukha) dan ketenangan (viveka) batin. Dengan
    melenyapkan sukha ia mencapai dan tetap berada dalam
    Jhana IV dengan pikiran terpusat dan penuh ketenangan
    batin.

    Para bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan kekayaan? Dalam hal
    ini, seorang bhikkhu membiarkan batinnya diliputi oleh cinta
    kasih (metta) yang dipancarkannya ke satu arah, ke
    dua arah, ke tiga arah dan ke empat arah dari dunia.
    Jadi dengan demikian seluruh dunia, dari atas, bawah,
    sekeliling dan di seluruh penjuru dunia dipancarkan
    cinta kasihnya yang tanpa batas, yang mulia, tak
    terukur, yang bebas dari kebencian dan iri hati. Ia pun
    membiarkan dirinya diliputi dengan kasih sayang atau welas asih
    (karuna) … simpati (mudita) … dan keseimbangan batin
    (upekkha) yang dipancarkannya ke satu arah, ke dua
    arah, ke tiga arah dan ke empat arah dari dunia. Jadi
    dengan demikian seluruh dunia dipancarkan
    keseimbangan batinnya yang tanpa batas, yang mulia,
    tak terukur, yang bebas dari kebencian dan iri hati. Inilah
    yang dimaksud dengan kekayaan.

    Para bhikkhu apakah yang dimaksud dengan kekuatan? Dalam hal
    ini, seorang bhikkhu melenyapkan kekotoran batin (asava)
    sehingga pada kehidupan sekarang ini ia sendiri
    mencapai dan tetap berada dalam keadaan batin yang
    suci dan kebijaksanaan yang suci. Inilah yang
    dimaksud dengan kekuatan.

    Para bhikkhu, tidak ada kekuatan lain yang sulit sekali ditaklukkan
    selain kekuatan mara. Tetapi perbuatan baik (kusala)
    yang dikembangkan sendiri (hingga mencapai
    kearahatan) akan merupakan cara yang paling baik
    untuk menaklukkannya.”


Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Para bhikkhu menjadi
gembira setelah mendengar uraian Sang Bhagava.


http://www.thesangaiexpress.com/buddhism-and-politics-2/


Buddhism and politics

Thangjam Sanjoo Singh
(Contd from previous issue)
In
the Cakkavatti Sihananda Sutta, the Buddha said that immorality and
crime, such as theft, falsehood, violence, hatred, cruelty, could arise
from poverty. Kings and governments may try to suppress crime through
punishment, but it is futile to eradicate crimes through force.
In
the Kutadanta Sutta, the Buddha suggested economic development instead
of force to reduce crime. The government should use the country’s
resources to improve the economic conditions of the country. It could
embark on agricultural and rural development, provide financial support
to entrepreneurs and business, and provide adequate wages for workers to
maintain a decent life with human dignity.
In the Jataka, the Buddha
had given to rules for Good Government, known as ‘Dasa Raja Dharma’.
These ten rules can be applied even today by any government which wishes
to rule the country peacefully. The rules are as follows:
a.    be liberal and avoid selfishness, maintain a high moral character,
b.    be prepared to sacrifice one’s own pleasure for the well-being of the subjects,
c.    be honest and maintain absolute integrity,
d.    be kind and gentle,
e.    lead a simple life for the subjects to emulate,
f.    be free from hatred of any kind, exercise non-violence, practise patience,
g.    and respect public opinion to promote peace and harmony.
Regarding the behaviour of rulers, He further advised:

A good ruler should act impartially and should not be biased and
discriminate between one particular groups of subjects against another.
– A good ruler should not harbour any form of hatred against any of his subjects.
– A good ruler should show no fear whatsoever in the enforcement of the law, if it is justifiable.

A good ruler must possess a clear understanding of the law to be
enforced. It should not be enforced just because the ruler has the
authority to enforce the law. It must be done in a reasonable manner and
with common sense. — (Cakkavatti Sihananda Sutta)
In the Milinda
Panha, it is stated: ‘If a man, who is unfit, incompetent, immoral,
improper, unable and unworthy of kingship, has enthroned himself a king
or a ruler with great authority, he is subject to be tortured‚ to be
subject to a variety of punishment by the people, because, being unfit
and unworthy, he has placed himself unrighteously in the seat of
sovereignty. The ruler, like others who violate and transgress moral
codes and basic rules of all social laws of mankind, is equally subject
to punishment; and moreover, to be censured is the ruler who conducts
himself as a robber of the public.’ In a Jataka story, it is mentioned
that a ruler who punishes innocent people and does not punish the
culprit is not suitable to rule a country.
The king always improves
himself and carefully examines his own conduct in deeds, words and
thoughts, trying to discover and listen to public opinion as to whether
or not he had been guilty of any faults and mistakes in ruling the
kingdom. If it is found that he rules unrighteously, the public will
complain that they are ruined by the wicked ruler with unjust treatment,
punishment, taxation, or other oppressions including corruption of any
kind, and they will react against him in one way or another. On the
contrary, if he rules righteously they will bless him: ‘Long live His
Majesty.’ (Majjhima Nikaya)
The Buddha’s emphasis on the moral duty of a ruler to use public power
to improve the welfare of the people had inspired Emperor Asoka in the
Third Century BC to do likewise. Emperor Asoka, a sparkling example of
this principle, resolved to live according to and preach the Dhamma and
to serve his subjects and all humanity. He declared his non-aggressive
intentions to his neighbours, assuring them of his goodwill and sending
envoys to distant kings bearing his message of peace and non-aggression.
He
promoted the energetic practice of the socio-moral virtues of honesty,
truthfulness, compassion, benevolence, non-violence, considerate
behaviour towards all, non-extravagance, non-acquisitiveness, and
non-injury to animals. He encouraged religious freedom and mutual
respect for each other’s creed. He went on periodic tours preaching the
Dhamma to the rural people. He undertook works of public utility, such
as founding of hospitals for men and animals, supplying of medicine,
planting of roadside trees and groves, digging of wells, and
construction of watering sheds and rest houses. He expressly forbade
cruelty to animals.
Sometimes the Buddha is said to be a social
reformer. Among other things, He condemned the caste system, recognized
the equality of people, spoke on the need to improve socio-economic
conditions, recognized the importance of a more equitable distribution
of wealth among the rich and the poor, raised the status of women,
recommended the incorporation of humanism in government and
administration, and taught that a society should not be run by greed but
with consideration and compassion for the people. Despite all these,
His contribution to mankind is much greater because He took off at a
point which no other social reformer before or ever since had done, that
is, by going to the deepest roots of human ill which are found in the
human mind. It is only in the human mind that true reform can be
effected. Reforms imposed by force upon the external world have a very
short life because they have no roots. But those reforms which spring as
a result of the transformation of man’s inner consciousness remain
rooted. While their branches spread outwards, they draw their
nourishment from an unfailing source — the subconscious imperatives of
the life-stream itself. So reforms come about when men’s minds have
prepared the way for them, and they live as long as men revitalize them
out of their own love of truth, justice and their fellow men.
The
doctrine preached by the Buddha is not one based on ‘Political
Philosophy’. Nor is it a doctrine that encourages men to worldly
pleasures. It sets out a way to attain Nirvana. In other words, its
ultimate aim is to put an end to craving (Tanha) that keeps them in
bondage to this world. A stanza from the Dhammapada best summarizes this
statement: ‘The path that leads to worldly gain is one, and the path
that leads to Nibbana (by leading a religious life) is another.’
However,
this does not mean that Buddhists cannot or should not get involved in
the political process, which is a social reality. The lives of the
members of a society are shaped by laws and regulations, economic
arrangements allowed within a country, institutional arrangements, which
are influenced by the political arrangements of that society.
Nevertheless, if a Buddhist wishes to be involved in politics, he should
not misuse religion to gain political powers, nor is it advisable for
those who have renounced the worldly life to lead a pure, religious life
to be actively involved in politics.
(The writer is President of an NGO called Population Health Institute (PHI). He can be reached at thangjamsanjoo42@gmail.com)

Leave a Reply